Banyak diantara kalangan awam kurang mengerti saat melihat foto yang menggambarkan seorang prajurit di garis depan dengan tatapan mata kosong dan terbelak. Seolah yang punya mata memandang ke arah nun-jauh disana yang berusaha dipandang dengan tatapan mata tanpa fokus, dan tidak berusaha untuk fokus. Seolah otak sedang berdialog dengan hatinya tanpa hiraukan keadaan sekitar. Bagi kalangan Infantry atau satuan satuan yang berada di garis depan yang menyaksikan pertarungan sengit, sering menyebut sebagai "Thousand-yard stare". Suatu bentuk laku otak untuk menghambat deraan psikologis si prajurit. Thousand-yard stare merupakan suatu bentuk karakteristik dari Combat-Stress reaction yang jika tidak di tangani akan mengakibatkan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
Hal demikian sudah merupakan suatu fenomena dan sudah terekam sejak manusia mengenal perang. Suatu karya seni atau disebut Chronicle by Sophocales sekitar 450 BC, tentang perjalanan psikologis Ajax setelah masa Illiad dan Trojan War.
Bagaimana kejengkelan Ajax karena kehormatan perang berupa perisai sakti Achilles justru diberikan kepada Odysseus. Kebencian ditambah dengan dengan luka luka perang baik fisik maupun pasikologis membangkitkan perasaan meradang yang berlebihan. Dia melampiaskan dendamnya dengan membunuh tentara musuh dengan sadistik.
Tak kurang seorang Dewi Athena yang berusaha membantu dengan menyihir domba domba yang diaku sebagai musuh musuh utamanya untuk disembelih. Setelah perasaan dendamnya tersalurkan, barulah Ajax sadar bahwa dia telah terbenam dalam kebencian dan mengorbankan perasaan orang orang terdekatnya. Dengan perasaan redam dia menghunus pedang saktinya yang merupakan salah satu senjata tangguh semasa perang Trojan, mengubur ditanah dengan ujung menghadap keatas. Lalu meloncat kearah pedang terhunus tersebut hingga tewas.
Saya pernah melihat para prajurit infantry yang masih muda tengah mengalami goncangan jiwa di medan perang. Akibat deraan psikologis yang tiba tiba menyerang fondasi kepercayaan diri dan menggempur pranata awal konsepsinya terhadap perilaku manusia.
Dengan kata lain, pemandangan dan pengalaman yang disuguhkan sudah sedemikian rupa sehingga melebihi kapasitas toleransinya terhadap pola laku yang sudah tertanam sejak kecil (childhood programming).
Menyaksikan film perang berbeda dengan menyaksikan sendiri jika seseorang tertembak, terkena bom dll. Apalagi jika korban adalah teman dekat atau sahabat yang baru saja berbagi rokok, saling tukar pikiran, atau baru saja berbicara yang tiba tiba terputus akibat kepalanya tertembus peluru.
Setiap orang tidak memiliki ambang toleransi yang sama dalam mensikapi masalah yang tiba tiba mendera perasaan. Pula tergantung dari kuatnya gemblengan mental saat pendidikan militer yang telah dilaluinya. Pemahaman core-value keprajuritan adalah salah satu buffer sebagai penahan tujahan luka mental seperti yang dibahas diatas.
Menurut kajian sebuah penelitian militer, PTSD bagi para veteran perang Afghan dan Iraq menunjukkan bahwa satuan satuan yang memiliki dedikasi dan pahaman core-value kemiliteran memiliki angka terendah jumlah penderita PTSD per battalion, dibandingkan dengan satuan satuan yang kurang penanaman disiplin core-value. Hal inilah yang memicu restrukturisasi pendidikan dasar kemiliteran. Dengan lebih meningkatkan ke-samaptaan dan pemahaman core-value yang spesifik bagi angkatan.
Yang menjadi masalah adalah, gangguan kejiwaan ini muncul justru setelah penderita menjalani kehidupan sipil. Gejala PTSD justru muncul setelah tuntutan kehidupan disekitarnya tidak memerlukan ketahanan syaraf bajanya (over alert) seperti yang dibutuhkan di medan perang. Gangguan ini tidak membahayakan jika ditangani secara dini.
Parahnya lagi, penderita menyembunyikan gangguan kejiwaan tersebut karena alasan alasan tertentu. Karena malu dianggap lemah, dianggap tidak profesional, dan dianggap menghalagi karir militernya bagi yang melanjutkan jenjang kepangkatan dll.
Di US military, penanganan PTSD bagi veteran perang sudah mulai menunjukkan peningkatan kualitas pelayanan secara drastis. Kementrian pertahanan (USDOD) bekerja sama dengan VA telah menggalakkan standar layanan bagi para tentara yang akan dikirim maupun yang baru saja pulang dari tugas tempur. Menurut Col. (USArmy) Charles Hoge, chief of Psychiatry and Neuroscience at the Walter Reed Institute of Research, menyerukan tinjauan ulang terhadap prosedur psychological fit-test bagi tiap tiap prajurit seyogyanya dilakukan setiap enam bulan sekali bagi semua personel militer tanpa kecuali.
Ini adalah lompatan yang effisien dan luar biasa. Mengingat bahwa banyak personel militer mengalami penugasan tempur lebih dari sekali. Dan banyak diantara mereka yang mengacuhkan faktor psikologis tersebut karena alasan sudah terbiasa. Padahal PTSD adalah fenomena gunung es yang sangat berbahaya.
Pelajaran berharga yang dapat dipetik adalah, pencegahan PTSD seharusnya dilakukan jauh hari sebelum si-prajurit akan dikirim ke tugas tempur. Hal ini dipandang effektif dan cara termurah. Dengan membuat baku sistem indoktrinasi militer bagi para rekruit maupun militer aktif. Serta mengadakan psychological fit-test setiap 6 bulan sekali selama masa tugas militer.
4 comments:
I'd like to add:
Preventive and mitigate action against PTSD should start at the early, and should be detected during the recruitment process. A thorough psychological test could identify candidates with high risk of post traumatic.
With the increase percentage of unemployment and the need to recruit troops for prolong war in Afghanistan (and Iraq) attracts many young men and women. I would argue that high percentage of these candidates were people who just don't have the 'it' factor to become soldier.
I agree to the argument that PTSD mostly occurred during the transition from the psychological status of high alert, to a normal civilian lives. It's not only happen from military to civilian, but it can also be observed in other sort of transition, such as from employment to unemployment. Thus transition period and the availability of supporting mechanism is paramount to ensure smooth transition, thus could mitigate the potential PTSD. This can be in the form of 'on the job training' for honourably discharged soldier, work placements, small scale business support and similar.
Lastly, the closest supporting mechanism for discharged soldiers are their family. Family (and friends) need to be included in any program combating PTSD. Long assignments and confronted with trauma will definitely changed any person, however, the long deployment also change the emotional and psychological relationship of the rest of the family. Therefore, targeting the family of soldier to battle PTSD is as important as targeting the soldier itself.
Salam
Black|Dahlia
I've heard that there's a research on whether it is effective to mandate soldiers to go through counseling after their active service. Result shows that when psychological tests are done amongst all the different groups, number of PTSD cases is much higher when counseling is mandatory than when it is not.
I am not familiar with the details of the result, conclusion or discussion, but this is definitely worth looking into.
Dear Hunmpery Samosir
I am really proud of you as a Batak ethnic that serves the US Marine. I just want to say "Horas" and hope you still remember your "bona pasogit" (home land) in Samosir Island, North Sumatera. If it is possible to communicate with you directly by email, it would be highly appreciate.
best regards
Alfons Samosir
email:alfons.samosir@gmail.com
Salam kenal dan salam persaudaraan. Saya tunggu kunjungan baliknya di: OBYEKTIF.COM thanks.
Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)
Post a Comment